Kamis, Juli 07, 2011
RUU Intelijen: Antara Harapan Dan Kecemasan.
Rancangan Undang-undang (RUU) Intelijen saat ini digodok oleh pemerintah bersama DPR, mendapat sorotan dari berbagai elemen masyarakat. Pasalnya, RUU ini dianggap berpotensi dalam ‘melegalkan’ tindakan-tindakan anti-demokrasi yang dilakukan oleh aparatur pemerintah terhadap masyarakat. Namun pemerintah berdalih, negara membutuhkan UU intelijen untuk memperjelas kewenangan Badan Intelijen Negara (BIN). “Jika UU tentang Intelijen nantinya diberlakukan maka tindakan intelijen akan lebih terukur dan terkoordinasi sehingga tidak terjadi pelanggaran hak azasi manusia (HAM)”, kata Patrialis Akbar, Menteri Hukum dan HAM, sebagaimana dilansir antaranews.com, 22 Maret 2001.
Menurutnya, UU Intelijen akan membatasi kewenangan BIN sehingga kegelisahan masyarakat akan pelanggaran HAM kian menghilang. Nantinya BIN akan berkoordinasi dengan kepolisian agar aparat penegak hukum dapat memproses permasalahan sedari awal dan memberikan perlindungan HAM. Karena menurutnya, selama ini kerja BIN dan instansi-instansi terkait, berjalan sendiri-sendiri. Ketidaktepatan perencanaan dan hubungan antar lembaga itu membuat kinerja penegak hukum lamban dalam mengantisipasi permasalahan.
Untuk pengawasan pelaksanaan UU tersebut, Patrialis mempercayakan kepada DPR dan seluruh elemen masyarakat. Sehingga pembentukan lembaga pengawas baru, tidak dibutuhkan. Dan ia yakin bahwa pemberlakuan RUU itu menjadi UU, akan berjalan efektif.
Sementara, kelompok-kelompok jurnalis dan aktifis-aktifis pro-demokrasi memiliki pandangan berbeda dengan sikap optimis pemerintah. Penangkapan, intimidasi dan penyalahgunaan kekuasaan menjadi sorotan utama mereka dalam mengkritisi RUU Intelijen. "Lihat saja sekarang, wartawan masih bisa dijerat dengan delik pidana, padahal sudah ada UU Kebebasan Pers, apalagi kalau RUU intelijen betul-betul tidak dalam pengawasan, bukan hanya kebebasan pers, namun juga keberlangsungan demokrasi (yang terancam-red)," tutur ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung, Wakos Reza Gautama, di antaranews.com, 12 Juni 2011.
Senada dengan AJI, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) memperingatkan agar kewenangan BIN harus dibatasi dan penangkapan seyogyanya diserahkan kepada pihak kepolisian. RUU Intelijen harus berpegang teguh pada konsep demokrasi dan penegakan HAM, bukan malah mengancamnya. “Jika RUU Intelijen yang sekarang digolkan, kita (masyarakat-red) siap-siap ditangkap,” ujar Koordinator Kontras Surabaya, Andi Irfan, melalui pesan singkat kepada penulis, 21 Juni 2011.
Harapan besar agar UU Intelijen mampu mengakomodir nilai-nilai Demokrasi dan HAM juga diutarakan Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro. Rekam jejak Indonesia di mata Internasional terkait penegakan Demokrasi dan HAM menjadi penekanan utama baginya. "Kita tidak mau lagi melanggar HAM, atau melanggar hukum internasional," kata dia, kepada detiknews.com, 7 Juni 2011.
RUU Intelijen ditargetkan selesai tahun ini. Banyak pihak menanti kehadirannya dengan penuh harapan dan kecemasan. Disatu sisi, keberadaannya dibutuhkan untuk mencegah aksi terorisme dan fundamentalisme, serta menjaga keamanan nasional atas ancaman dari luar negeri. Disisi lain, UU Intelijen harus mampu berjalan harmonis dengan demokrasi dan HAM. Seperti yang sudah dirintis dan diperjuangkan sejak era Reformasi 1998.
Ady Thea
Selasa, Agustus 25, 2009
Peluncuran Buku Tan Malaka, Gerakan Kiri Dan Revolusi Indonesia (Jilid 2)
Potografer: Ady Thea
25 Agustus 2009
Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti tentang kehidupan Tan Malaka, selasa (25/8) di kantor Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, menjelaskan tentang poin-poin penting dalam bukunya berjudul "Tan Malaka, Gerakan Kiri Dan Revolusi Indonesia (Jilid 2)." Ia menjelaskan bahwa Tan Malaka adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia, namun semasa pemerintahan Soeharto, namanya ditenggelamkan. Tan Malaka dan Alimin adalah dua tokoh nasional yang tidak pernah disebut dalam buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah. Kedua tokoh itu merupakan tokoh komunis yang turut berjuang dalam memperjuangkan kemerdekaan di Indonesia.
Tan Malaka adalah salah satu tokoh komunis Indonesia kawakan yang banyak membangun basis-basis perjuangan rakyat di berbagai belahan dunia. Pada tahun 1921 Tan Malaka menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI), menggantikan pemimpin sebelumnya, Semaoen. Tan Malaka juga disebut oleh beberapa peneliti sebagai tokoh yang sepadan jika dibandingkan tokoh nasional yang sangat populer, Soekarno. Maka layak, di tahun 1945 Tan Malaka dipersiapkan oleh Soekarno untuk menggantikan kepemimpinannya jika ia mengalami keadaan bahaya sehingga tidak dapat menjalankan tugas sebagai pemimpin ketika itu.
Tan Malaka disebut sebagai “Bapak Repoeblik Indonesia” karena ia telah membuat konsep tentang terbentuknya Negara Republik Indonesia jauh sebelum tokoh-tokoh lainnya, bahkan Soekarno sekalipun. Tan Malaka, seorang pribadi yang ulet, pemikir cerdas dan revolusioner. Namun sayang nyawanya harus berakhir tragis, atas perintah Soekotjo yang ketika itu berpangkat Letnan Dua, dari Divisi Brawijaya, Tan Malaka ditembak mati.
Dalam kegiatan peluncuran buku itu, Poeze bukan hanya menjelaskan isi dari bukunya, ia juga menampilkan beberapa poto yang jarang atau bahkan belum pernah dilihat sebelumnya di buku-buku sejarah seperti poto Sjahrir dan Amir Sjariffudin yang duduk bersebelahan membaca koran, poto Tan Malaka disebelah Soekarno dalam rapat raksasa dan lain-lain. Ia juga sempat memutar beberapa buah lagu perjuangan seperti lagu Indonesia Raya yang diciptakan W.R. Supratman sebelum masa perang dunia kedua dan lagu Darahh Rakyat yang sangat populer dinyanyikan sebagai lagu perjuangan ketika itu.
Sejarah Indonesia, sejak rezim Soeharto berkuasa, diselewengkan sedemikian rupa, sehingga penafsiran terhadap sejarah hanya digunakan untuk kelanggengan kekuasaan rezim. Pantaslah sampai hari ini sebagian besar massa rakyat di Indonesia dijejali oleh kepalsuan-kepalsuan sejarah. Yang diulang terus-menerus selama rezim berkuasa, sehingga kepalsuan itu berubah menjadi “kebenaran”. Bagaimanapun, kebenaran sejati tidak akan pernah mati.
Buku setebal 400 halaman itu menjelaskan bagaimana sepak terjang Tan Malaka dalam berjuang bersama tokoh-tokoh kemerdekaan lainnya dengan sangat rinci dan jelas. Buku itu menjelaskan kehidupan Tan Malaka kurang lebih selama dua tahun. Banyak sejarawan dari dalam maupun luar negeri mengakui Poeze sebagai seorang sejarawan yang sangat detail dalam melakukan sebuah penelitian. Maka tidak heran jika buku hasil penelitiannya dapat dicetak berjilid-jilid banyaknya. Itulah keitimewaan Poeze, kedetailan dari setiap karyanya menunjukkan betapa banyak sumber yang dia dapat. Karyanya memberikan sumbangan yang sangat besar terhadap perkembangan sejarah Indonesia.
Peluncuran Buku Harry A. Poeze; Jilid 2: Tan Malaka, Gerakan Kiri Dan Revolusi Indonesia. (Jakarta, 25 Agustus 2009)
Penulis: Ady Thea
Potografer: Ady Thea
Kamis, Agustus 20, 2009
Venezuela Semakin Waspada Terhadap Ancaman Militer AS
Penulis: Ady Thea
Editor: Ted Sprague
14 Agustus 2009
Belum selesai masalah di Honduras selesai, dimana Presiden Manuel Zelaya yang terpilih secara demokratis dikudeta oleh petinggi-petinggi militer yang pro-kapitalis, kini kaum revolusioner di Amerika Latin digerahkan oleh sikap pemerintahan Kolombia di bawah kepemimpinan Presiden Alvaro Uribe yang menjalin hubungan kerjasama dengan Amerika Serikat (AS). Sebelumnya Uribe telah menuduh pemerintahan Venezuela memasok senjata kepada kelompok gerilyawan di Kolombia, Revolutionary Forces of Colombia (FARC). Pemerintahan Venezuela menanggapi tuduhan Kolombia itu dengan mengatakan bahwa kelompok gerilyawan telah mencuri persenjataan milik Venezuela di pos militer milik Venezuela yang letaknya berbatasan atau berdekatan dengan Kolombia pada tahun 1995, dimana Chavez ketika itu belum menjabat sebagai presiden. Chavez juga mengatakan bahwa badan intelijen AS, Central Intelligence Agency (CIA), bekerjasama dengan pemerintahan Kolombia dengan mendukung pasukan paramiliter masuk secara ilegal ke wilayah Venezuela untuk melakukan skenario pembunuhan dan kudeta. Melihat kondisi pemerintahan Kolombia yang semakin “tidak bersahabat”, pekan lalu pemerintahan Venezuela memutuskan hubungan diplomatik dengan Kolombia dan berencana untuk membeli sejumlah peralatan tempur seperti tank dari Rusia untuk merespon kebijakan yang dilakukan oleh AS dan Kolombia.
Karena saat ini Kolombia membolehkan pemerintah AS mengirim ratusan tentaranya untuk menempati basis-basis militer yang ada di Kolombia. Pemerintahan Uribe berdalih bahwa tindakan itu merupakan bentuk kerjasama antara Kolombia – AS untuk memerangi terorisme dan perdagangan narkoba. Dalam kurun waktu delapan tahun terakhir ini, Kongres AS telah menyetujui bantuan militer sebesar 5,5 milyar Dollar AS untuk Kolombia, kebijakan ini disebut Plan Colombia. Presiden AS, Barack Obama, mengatakan bahwa AS dan Kolombia telah melakukan kerjasama militer dan penempatan pasukan ini merupakan bagian dari kesepakatan itu. Obama juga menjelaskan bahwa ia tidak berkeinginan untuk membangun basis militer AS di Kolombia.
Chavez melihat kebijakan yang diambil oleh AS-Kolombia itu merupakan langkah awal dari peperangan yang akan berkobar di wilayah Amerika Selatan. “Kaum Yankees (AS) tidak menginginkan kita bersatu sebagai sebuah kesatuan regional, mereka tidak ingin adanya persatuan antara Venezuela dan Kolombia”, kata Chavez. Kolombia di bawah kepemimpinan Uribe menjalin hubungan yang sangat mesra dengan AS. Oleh karena itu bantuan ekonomi politik AS terus mengalir ke Kolombia. Hubungan ini dijalin semakin erat karena saat ini AS tidak banyak mendapat simpati dari pemerintahan revolusioner di beberapa negara di wilayah Amerika Latin. Hegemoni AS di Amerika Latin semakin berkurang drastis semenjak bermunculannya kekuatan pemerintahan progresif yang menentang penindasan AS.
Menyangkut persoalan antara pemerintahan Venezuela dan Kolombia, beberapa negara Amerika Latin yang berada di bawah kepemimpinan kaum progresif seperti Chili, Bolivia dan lain-lain merekomendasikan agar Kolombia menjalin kerjasama dengan negara-negara Amerika Latin lainnya untuk mengatasi masalah keamanan di negaranya, terutama tentang perdagangan narkoba dan memerangi terorisme. Hal itu dapat dibicarakan bersama lewat organisasi integrasi politik dan militer UNASUR (Persatuan Negara-negara Amerika Selatan). Langkah ini dinilai tepat karena dapat memperkuat hubungan antar negara di kawasan Amerika Latin. Namun rekomendasi itu tidak diindahkan oleh pemerintahan Uribe.
Negara-negara Amerika Latin saat ini sedang giat untuk melakukan kerjasama di segala bidang baik itu ekonomi, sosial, politik, budaya, militer dan lain-lain. Langkah ini diambil agar negara-negara di Amerika Latin dapat berdiri secara independen, bebas dari aturan-aturan tidak adil dari kaum kapitalis global, sehingga massa rakyat dapat bersatu dalam memperjuangkan kesejahteraan mereka dari cengkraman kuku-kuku kapitalisme. AS semakin gigit jari ketika negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Kepulauan Karibia banyak yang bergabung dalam ALBA (Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika). ALBA merupakan organisasi antar negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia yang menolak konsep perdagangan bebas yang ditawarkan AS beserta sekutunya lewat FTAA (Area Perdagangan Bebas di Amerika). ALBA merupakan organisasi alternatif yang dibentuk dan dipelopori oleh Kuba dan Venezuela. Hingga saat ini jumlah negara anggota ALBA berjumlah 9 negara yaitu Antigua dan Barbuda, Bolivia, Kuba, Dominika, Ekuador, Honduras, Nikaragua, Saint Vincent dan Grenadines, dan Venezuela.
Seperti halnya ALBA, organisasi lainnya yaitu UNASUR, juga dibentuk sebagai sebuah alternatif bagi kerjasama antara negara-negara di kawasan Amerika Latin. Langkah ini penting karena kerjasama yang dilakukan bukan hanya sebatas keuntungan ekonomi semata, namun lebih daripada itu. Kerjasama yang dilakukan didasarkan pada semangat sosialisme, dimana negara-negara yang tergolong miskin akan dibantu semaksimal mungkin agar ia dapat membangun negaranya dengan segenap kekuatan kelas pekerja. Seperti halnya kerjasama yang telah dilakukan oleh Kuba dan Venezuela ketika ALBA pertama kali dibentuk dimana kelas pekerja di Venezuela, lewat pemerintahan Chavez, mengirim kurang lebih 96.000 barrel bahan bakar minyak per-hari untuk massa rakyat Cuba dan sebagai gantinya, kelas pekerja di Kuba, lewat pemerintahan Fidel Castro, mengirimkan kurang lebih 20.000 tenaga-tenaga medis terlatih dan ribuan tenaga pengajar profesional yang ditempatkan di daerah-daerah miskin di Venezuela. Bentuk kerjasama seperti itulah yang tentunya juga dirasakan oleh negara-negara anggota ALBA ataupun UNASUR lainnya.
Namun tampaknya pemerintahan Uribe tidak menginginkan hal itu. Rupanya ia lebih memilih untuk bekerjasama dengan emperium kapitalisme AS dan sekutunya. Bahkan ia telah membuka pintu lebar-lebar agar tentara AS dapat masuk dan menempati basis-basis militer di Kolombia. Chavez menyesali kebijakan yang diambil pemerintahan Uribe. “Saya lebih suka berdiskusi tentang kerjasama dalam pembangunan jalur kereta, pipa minyak, kesehatan, literatur dan pendidikan antara Kolombia dan Venezuela, namun sayang sekali kita mendiskusikan hal yang lain”, kata Chavez.
Referensi:
http://www.venezuelanalysis.com/news/4696
http://www.venezuelanalysis.com/news/4701
Senin, Juni 29, 2009
Kaum Buruh Revolusioner di Iran dan Venezuela Mengkritik Chavez
Penulis : Ady Thea
Editor : Ted Sprague
Menyikapi Pemilu Presiden 2009 di Iran, kementrian luar negeri Venezuela menyebutkan “Venezuela menyatakan penentangan terhadap kampanye fitnah yang mengerikan dan tidak berdasar yang berasal dari pihak luar” dan Venezuela juga mengecam intervensi pihak asing untuk menggoyang stabilitas di Iran (Kompas, 18 Juni 2009). Pemilu Presiden 2009 di Iran berakhir dengan kemenangan mutlak Ahmadinejad yang kembali menjabat sebagai Presiden Iran dengan memperoleh 63% suara. Iran digoncang gelombang besar demonstrasi massa rakyat. Mereka menggugat sistem Pemilu Iran yang diindikasikan penuh dengan kecurangan. Kandidat presiden Iran lainnya yaitu Mir Mousavi, yang menempati urutan kedua dengan memperoleh 34% suara, menanggapi kecurangan itu dengan menyerukan kepada seluruh pendukungnya untuk turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi damai. Namun demonstrasi itu dihadapi oleh pemerintah Iran dengan sikap yang represif, penuh kekerasan, yang mengakibatkan sedikitnya puluhan orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Pemerintah Iran telah terbiasa melakukan berbagai macam tindak kekerasan terhadap gerakan revolusioner di Iran. Padahal mereka mengklaim sebagai pemerintahan yang Revolusioner, namun pernyataan itu tidak sesuai dengan realitas yang ada di Iran. Bahkan rezim yang berkuasa di Iran saat ini lebih cocok disebut dengan rezim reaksioner. Mereka tidak memberikan ruang terhadap kegiatan-kegiatan revolusioner, mereka menutup seluruh akses demokratik yang harusnya dapat dimiliki oleh masyarakat sipil di Iran. Serikat buruh revolusioner di Iran seperti serikat buruh Vahed, Iran Khodro dan gerakan-gerakan revolusioner lainnya direpresi oleh rezim pemerintah. Dengan cara mengintimidasi, menangkap para pemimpin buruh dan melakukan penyiksaan bahkan tak segan-segan untuk membunuh .
Saat ini Iran bergejolak, massa rakyat menggugat rezim reaksioner di Iran, menuntut pembaharuan dalam Republik Islam Iran, karena tidak ada sistem politik demokratik di Iran. Pemilu Presiden di Iran bukanlah pemilu yang demokratis, karena kandidat-kandidat presiden yang maju dalam Pemilu tidak ditentukan secara demokratik, tapi diseleksi dan ditentukan oleh Majelis Wali (Guardian Council). Dalam teknis pelaksanaan pemilu, para kandidat calon presiden atau kelompoknya tidak diperbolehkan untuk memonitor dan mengawasi jalannya pemilu di lokasi-lokasi pemilihan (TPS) termasuk lembaga-lembaga pemantau pemilu independen lainnya. Sehingga tidak ada transparansi yang jelas mengenai perhitungan perolehan suara. Dan semuanya itu diindikasikan telah dirancang oleh rezim jauh sebelum pemilu dilaksanakan.
Dalam ranah internasional di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, Iran terlihat sebagai negara “revolusioner”, ia menentang imperialisme, memusuhi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Untuk mendukung dan memperkuat status quo di Iran, Ahmadinejad melakukan manuver politik luar negeri yang cukup baik sehingga pencitraan massa rakyat Internasional melihat Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad merupakan salah satu negara revolusioner di dunia, apalagi semakin eratnya hubungan antara Iran dengan Venezuela sejak kunjungan Chavez ke Iran di tahun 2004. Hubungan antar kedua negara itu berlanjut ketika Ahmadinejad dan beberapa tokoh politik Iran lainnya melakukan kunjungan balasan ke Venezuela di tahun 2006. Dalam 2 hari kunjungannya ke Venezuela, telah dicapai kesepakatan antara kedua negara untuk melakukan kerjasama ekonomi dan kurang lebih terdapat 20 nota kesepakatan yang ditandatangani kedua belah negara. Bahkan pemerintahan Iran telah berinvestasi jutaan dollar AS di Venezuela.
Namun apakah cukup dengan pencitraan seperti itu, Ahmadinejad beserta seluruh rezim yang berkuasa di Iran dikatakan sebagai para pemimpin revolusioner sejati? Apakah retorika-retorika yang terkesan revolusioner itu juga diterapkan dalam kebijakan politik domestik di Iran? Diberangusnya kekuatan-kekuatan revolusioner serikat-serikat buruh, gerakan mahasiswa dan gerakan progresif lainnya di Iran merupakan cerminan bagaimana pencitraan itu tidak sesuai dengan realitas yang ada di Iran. Rezim Iran tidak mengangkat derajat kaum proletariat, malahan mereka menghancurkan kekuatan revolusioner dengan segenap kekuatan reaksioner. Di satu sisi, pemerintahan Venezuela di bawah kepemimpinan Chavez, mendukung segenap gerakan revolusioner yang ada di Venezuela. Mendukung terbentuknya serikat buruh revolusioner sejati, menyerukan agar buruh mengendalikan pabrik yang ditinggalkan majikannya, membangun basis-basis revolusioner di seluruh penjuru Venezuela, membentuk beraneka ragam program-program sosial yang pro-kaum proletar dan hal-hal revolusioner lainnya. Namun di sisi lain, Iran, di bawah cengkraman rezim yang sekarang berkuasa, kelas buruh mengalami nasib yang sebaliknya, pekerja tidak memiliki hak untuk mendirikan serikat buruh independen, melakukan pemogokan dan melakukan kegiatan-kegiatan revolusioner lainnya. Bahkan setiap demonstrasi dan pemogokan yang dilakukan kaum buruh di Iran untuk menuntut hak-hak mereka seperti kenaikan upah, jaminan kesejahteraan dan lain-lain, seringkali berakhir dengan penangkapan, penyiksaan dan bahkan pembunuhan.
Dalam konteks politik Internasional, Venezuela mengadakan kerjasama antar negara untuk membangun perekonomian tanpa campur tangan imperialisme AS dan sekutunya, membangun hubungan diplomatik dan kegiatan-kegiatan protokoler lainnya. Diplomasi dan hubungan dagang adalah bagian dari kebijakan luar negeri, bahkan ketika ada revolusi yang sedang terjadi. Apalagi Venezuela sekarang masih membutuhkan teknologi dan industri untuk mengembangkan ekonominya, dan tanpa adanya negara-negara sosialis yang bisa saling membantu (dan kita harus jelas kalau Venezuela pun belumlah menjadi negara sosialis) maka Venezuela harus memberikan konsensi dagang pada negara-negara kapitalis lainnya, termasuk Iran. Bahkan dengan Amerika pun Venezuela masih mempertahankan hubungan dagangnya, yakni masih mensuplai minyak ke Amerika.
Akan tetapi, dalam melakukan diplomasi dan hubungan dagang ini, kita harus mengetahui dan sadar akan karakter sesungguhnya dari rejim-rejim tersebut. Iran bukanlah rejim revolusioner, Iran bukanlah rejim anti-imperialis. Iran adalah rejim reaksioner anti kelas pekerja. Untuk merepresentasikan Iran sebagai rejim progresif, seperti yang Chavez sedang lakukan, adalah sebuah kesalahan besar yang akan membingungkan rakyat Venezuela dan merusak basis dukungan dari kaum buruh dan muda Iran yang merupakan sekutu sejati dari Revolusi Venezuela. Sebagai pendukung Revolusi Venezuela, kita harus mengkritik dengan keras sikap Chavez terhadap Iran ini yang justru akan membahayakan Revolusi Venezuela. Pendukung Revolusi Venezuela bukanlah berarti pengekor Chavez.
Seperti halnya banyak kaum kiri yang kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi di Iran, di mana cukup banyak kaum kiri justru mendukung Ahmadinejad dan mengatakan bahwa Iran adalah rejim progresif anti-imperialis (bahkan ada partai-partai “komunis” yang mendukung rejim Iran sekarang), Chavez juga kebingungan. Ini dikarenakan banyak informasi yang tidak jelas mengenai karakter sesungguhnya dari rejim Iran sekarang ini, yang lahir dari konter-revolusi terhadap Revolusi 1979 yang menumbangkan Shah. Kita harus mengerti jelas karakter rejim Iran dan sejarahnya, kalau tidak kita akan kebingungan (Baca “Revolusi Iran – Sejarah dan Hari Depannya” oleh Dr. Zayar dari Iran)
Chavez sebagai pemimpin dari segenap elemen revolusioner di Venezuela harusnya melakukan langkah-langkah kongkrit untuk membantu memperkuat basis revolusioner di Iran. Membantu kaum proletar di Iran untuk melawan rezim reaksioner. Dalam surat terbuka yang dilayangkan oleh Liga Sosialis Revolusioner Iran kepada Chavez, menyerukan agar Chavez membantu mereka untuk mengangkat isu-isu tentang kekerasan yang dialami serikat buruh revolusioner di Iran.
Dari kubu garis keras yang diwakili oleh Ahmadinejad dan dari kubu reformis yang diwakili oleh Mousavi, merupakan satu kesatuan dari rezim yang saat ini berkuasa. Mousavi, walaupun dia saat ini menjadi tokoh yang populer di tengah-tengah massa rakyat Iran yang kebingungan, namun tetap saja dia bukanlah pemimpin revolusioner sejati yang mampu mengakomodir dan mewujudkan cita-cita elemen progresif revolusioner di Iran. Kaum proletariat Iran harus mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin baru yang revolusioner untuk dapat memenangkan gerakan revolusi yang saat ini sedang bergairah di Iran. Karena tanpa kepemimpinan revolusioner sejati yang berpihak kepada kaum proletariat, maka massa rakyat Iran tidak akan meraih kemenangan.
Hidup kaum proletar di Iran...!!!
Kamis, Juni 04, 2009
Quo Vadis 10 tahun Revolusi Venezuela menuju Sosialisme: Kesejahteraan Rakyat Membaik atau Memburuk
Venezuela bagian timur diperkirakan memiliki cadangan sebesar 370 miliar barel dan dinyatakan sebagai cadangan minyak terbesar di dunia. Namun karena ladang minyak itu tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah, bahkan banyak perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi disana seperti Exxon Mobil (Perusahaan minyak AS), Chevron (Inggris), Total (Perancis) dan lain-lain. Akibatnya, massa rakyat Venezuela tidak dapat menikmati hasil kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Venezuela. Bahkan pada tahun 1989, dimasa kepemimpinan Carlos Andres Perez yang pro-kapitalis, sebanyak 80,42% dari keseluruhan jumlah penduduk Venezuela terjerumus dalam jurang kemiskinan.Jakarta, 3 Juni 2009,
Ady Thea
Referensi:
• http://www.antara.co.id/view/?i=1178088506&c=EKB&s=, diakses pada tanggal 3 Juni 2009
• http://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_Venezuela, diakses pada tanggal 3 Juni 2009
• Mark Weisbrot, Rebecca Ray dan Luis Sandoval, “The Chavez Administration at 10 Years: The Economy and Social Indicators”. Makalah CEPR. (Washington DC, Februari 2009)
Selasa, Mei 26, 2009
Menuju Pilpres 2009: Berebut Simpati Massa Rakyat
Seperti dalam prosesi deklarasi para bakal calon capres – cawapres yang telah dilakukan pada bulan ini. Deklarasi JK – Wiranto berlangsung di Tugu Proklamasi dan dihadiri oleh ribuan massa pendukungnya. Lokasi itu dipilih agar menimbulkan kesan bahwa mereka memiliki semangat perjuangan seperti Soekarno – Hatta yang membela massa rakyat. Tim sukses JK – Wiranto menyebutkan bahwa prosesi deklarasi itu telah menghabiskan dana sebanyak 20 juta rupiah (Senin, 25/05/2009, http://pemilu.detiknews.com). Deklarasi pasangan SBY – Boediono, bertempat di Kompleks kampus ITB, Bandung. Prosesi itu dirancang dengan penuh kemewahan dan ditaksir menghabiskan dana lebih dari 1 miliar rupiah (Senin, 25/05/2009, http://pemilu.detiknews.com). Sedangkan deklarasi pasangan Megawati Soekarnoputri – Prabowo Subianto, berlokasi di TPA Bantar Gebang, Bekasi. Dimana lokasi itu adalah tempat pembuangan sampah yang kumuh, namun demi meraih kursi kekuasaan, mereka rela untuk berada di tempat kotor itu. Langkah ini dilakukan untuk mencitrakan bahwa pasangan ini berpihak kepada rakyat miskin. Dana yang dihabiskan untuk prosesi deklarasi ini mencapai lebih dari 500 juta rupiah (Senin, 25/05/2009, http://pemilu.detiknews.com).
Jakarta, 25 Mei 2009
Ady Thea
Sabtu, Mei 02, 2009
Mayday 2009 (poto)

Long march dimulai dari Bundaran HI
Massa buruh Hotel Grand Indonesia ikut bergabung
"Burger King" ditengah aksi massa
Regu bersenjata siap membubarkan massa aksi
Negosiasi
Tak gentar walau kawat duri menghadang
Barisan massa buruh wanita dan polwan saling berhadapan
Tetap ceria walau dihadang aparat
KSBSI: Inilah tuntutan kami...!
Massa buruh vs aparat: Aksi saling dorong
Gas air mata siap ditembakkan
Korban dari pihak kepolisian: Langsung ditangani tim dokter
Korban dari pihak buruh: Dirawat dengan semangat perjuangan dan solidaritas
Pasukan lapis kedua dilengkapi tameng besi
Senjata andalan polisi untuk membubarkan massa, water canon.
Bunda...kita harus menang...!!!
Mayday 2009

Puluhan ribu buruh yang tergabung dalam berbagai macam serikat buruh, pada 1 Mei 2009 memperingati hari buruh sedunia (mayday) didepan kawasan Istana Negara, diujung jalan Merdeka Barat. Sebelumnya mereka berjalan dari Bundaran HI menuju Istana Negara.
Ketika mereka sampai diujung jalan Merdeka Barat. Aparat Keamanan telah siap menghadang massa aksi. Aparat keamanan dari Polda Metro Jaya tidak memperbolehkan massa buruh untuk mendekat tepat didepan Istana Negara. Mereka menghalangi buruh dengan membentuk dua lapis pagar betis, kawat berduri, pasukan bersenjata gas air mata dan dua buah mobil water canon. Melihat hadangan aparat, beberapa orang negosiator dari buruh bernegosiasi dengan pemimpin aparat keamanan dilapangan agar massa aksi diperbolehkan untuk maju tepat di sebrang Istana Negara, di jalan Medan Merdeka Utara. Negosiasi antara kedua belah pihak sangat alot.
Dengan yel-yel yang diiringi sejumlah alat musik, massa aksi membakar semangat. Beberapa perwakilan dari serikat buruh yang tergabung dalam ABM (Aliansi Buruh Menggugat) berorasi menyampaikan tuntutan-tuntutan mereka terhadap pemerintah. Antara lain Menolak sistem kerja kontrak, dihapuskannya outsourcing, menolak upah murah, menuntut agar dibentuk Upah Layak Nasional [ULN] dan lain-lain.
Karena tidak diperbolehkan untuk lebih mendekat ke Istana Negara, Sekitar pukul 17.00 WIB massa aksi mencoba untuk mendorong pagar betis aparat keamanan. Peristiwa itu membuat situasi menjadi sedikit ricuh. Dalam kejadian itu satu orang polwan dan satu orang buruh jatuh pingsan.Karena jumlah aparat keamanan yang kalah banyak dengan massa aksi, mobil water canon dipersiapkan tepat dibelakang pagar betis lapisan pertama.
Menjelang magrib demonstrasi berakhir dengan menyanyikan lagu wajib bagi kelas pekerja seluruh dunia yaitu Internationale.Penulis :Ady Thea
Potografer :Ady Thea
Kamis, April 09, 2009
Megawati Soekarnoputri Sekeluarga Menyontreng Caleg
Menunggu Dipanggil
Membuka Kertas Suara
Mendapat Pengawalan Ketat
Dibantu Petugas TPS
Selesai Menyontreng
Potografer: Ady Thea
Megawati Soekarnoputri Menyontreng Di Depan Rumah

Sekitar pkl.11.00 WIB hari ini mantan presiden Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri bersama keluarganya menunaikan hak pilihnya di TPS (Tempat Pemungutan Suara) 037, kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Lokasi TPS berada tepat di depan kediaman Megawati Soekarnoputri dan sejak pagi hari sekitar area TPS sudah dipenuhi oleh puluhan orang wartawan dan potografer. Bahkan warga sekitar tak mau ketinggalan untuk menyaksikan prosesi tersebut.
Megawati beserta keluarga langsung menuju tempat pendaftaran, kemudian duduk ditempat yang telah disediakan dan menunggu dipanggil sesuai dengan nomor urut antrian. Secara berurutan mereka dipanggil (Ketua Panitia Pemungutan Suara) KPPS untuk mengambil surat suara yang akan dicontreng. Seperti umumnya para pemilih pada Pemilu 2009 ini, Megawati agak sedikit kesulitan membuka dan melipat kembali surat suara yang berukuran lebar mirip lembaran koran.
Dengan senyuman ramah, Megawati menunjukan surat suara yang telah dilipat kepada para wartawan untuk diabadikan. Lalu memasukan surat-surat suara tersebut ke kotak suara tanpa hambatan. Setelah mencelupkan jari ke dalam tinta sebagai tanda telah memilih. Megawati beserta keluarga langsung bergegas kembali menuju rumah dengan kawalan ketat aparat keamanan. Megawati terus melangkah menuju ke dalam rumah tanpa berbicara. Namun suaminya, Taufik Kiemas selaku Ketua Dewan Pembina PDIP yang dilontari pertanyaan oleh wartawan tentang kekalahan PDIP pada Pemilu 2004, ia mengatakan bahwa PDIP ketika itu sedang "mabok" dan untuk Pemilu 2009 ia yakin posisi PDIP akan lebih baik daripada Pemilu 2004.Penulis: Ady Thea
Potografer: Ady Thea
Selasa, Maret 31, 2009
sunda kelapa
SUNDA KELAPA merupakan pelabuhan tertua di Indonesia. Menurut sejarah, Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Pajajaran selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tanara dan Cimanuk. Jadi pelabuhan ini telah dipakai sejak jaman Hindu.Menurut prasasti atau batu tertulis yang kini masih terdapat di Kelurahan Batutulis Kota Madia Bogor sebagai bukti tertua kerajaan itu, kerajaan yang berpusat di Paja-jaran itu mulai didirikan pada tahun 1133. Menurut berita-berita Portugis yang berasal dari awal abad ke-16, dapat diperkirakan kerajaan itu telah ada kurang lebih empat abad.
Tome Pires, orang Portugis yang mengunjungi pela-buhan-pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa antara tahun 1512 dan 1515, menggambarkan bahwa pelabuhan ini ramai disinggahi pedagang-pedagang dan pelaut dari luar seperti dari Sumatra, Malaka, Sulawesi Selatan, Jawa dan Madura. Menurut laporan tersebut, di Sunda Kelapa banyak diperdagangkan lada, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buahbuahan.
Malaka direbut Portugis pada tahun 1511. Kemudian pada tahun 1522, Gubernur d’Albuquerque yang berke-dudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untak mengadakan hubungan persahabatan dengan Pajajaran, guna mendapatkan izin mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Maksud Portugis itu mendapat sambutan baik dari Kerajaan Pajajaran, karena kecuali alasan perdagangan, Raja Paja-jaran juga mengharapkan bantuan Portugis untuk melawan orang-orang muslim yang makin banyak jumiahnya di Banten dan Cirebon. Sementara itu Kerajaan Demak sudah menjadi pusat kekuatan politik Islam.

Pada tanggal 21 Agustus 1522 dibuatlah suatu per-janjian yang menyebutkan bahwa orang Portugis akan membuat benteng di Sunda Kelapa, sedangkan Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan. Raja Pajajaran akan memberikan kepada pihak Portugis 1.000 keranjang lada sebagai tanda persahabatan. Sebuah batu peringatan atau padrau (baca Padrong) dibuat untuk memperingati peristiwa itu. Padrau itu ditemukan ketika pada tahun 1918 orang mulai mendirikan sebuah gudang di sudut Prinsen Straat dan Groene Straat di Jakarta Kota, dan kini disimpan di Museum Pusat. Jalan-jalan itu sekarang bernama Jalan Cengkeh dan Jalan Nelayan Timur.
Kerajaan Demak menganggap perjanjian persahabatan Pajajaran-Portugis tersebut suatu ancaman baginya. Maka pada tanggal 22 Juni 1527, pasukan gabungan Demak-Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) merebut Sunda Kelapa. Tanggal 22 Juni inilah yang hingga kini selalu dirayakan sebagai hari jadi kota Jakarta. Sejak itu nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta yang berarti kota kemenangan atau kota kejayaan.
Dalam perkembangan berikutnya, pada tanggal 30 Mei 1619, Jayakarta direbut Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen yang sekaligus memusnahkannya. Di atas puing-puing Jayakarta ini Coen mendirikan sebuah kota baru, yang oleh Coen hendak diberi nama Nieuw Horn atau Horn Baru sesuai nama kota kelahirannya di Belanda, tetapi akhirnya dipilih nama Batavia.
Menurut catatan sejarah, pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1610 dibangun dengan kanal sepanjang 810 meter. Pada tahun 1817, pemerintah Belanda memperbesarnya menjadi 1.825 meter. Setelah jaman kemerdekaan, dilakukan rehabilitasi sehingga pelabuhan ini memiliki kanal sepanjang 3.250 meter yang dapat menampung 70 perahu layar dengan sistem susun sirih.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.D.IV.a.4/3/74 tanggal 6 Maret 1974, nama Sunda Kelapa dipakai lagi. Pelabuhan ini juga biasa disebut Pasar Ikan karena di situ terdapat pasar ikan yang besar. Saat ini pelabuhan Sunda Kelapa memiliki luas daratan 760 hektar serta luas perairan kolam 16.470 hektar, terdiri atas dua pelabuhan utama dan pelabuhan Kalibaru. Pelabuhan uta-ma memiliki panjang area 3.250 meter dan luas kolam lebih kurang 1.200 meter yang mampu menampung 70 perahu layar motor. Pelabuhan Kalibaru panjangnya 750 meter lebih dengan luas daratan 343.399 meter persegi, luas kolam 42.128,74 meter persegi, dan mampu menampung se-kitar 65 kapal antarpulau dan memiliki lapangan penumpukan barang seluas 31.131 meter persegi.
Dari segi ekonomi, pelabuhan ini sangat strategis ka-rena berdekatan dengan pusat-pusat perdagangan di Jakarta seperti Glodok, Pasar Pagi, Mangga Dua, dll. Sebagai pela-buhan antarpulau Sunda Kelapa ramai dikunjungi kapal-kapal berukuran 175 BRT. Barangbarang yang diangkut di pelabuhan ini selain barang kelontong adalah sembilan bahan pokok seperti beras, terigu, minyak goreng, gula, garam, sabun, minyak tanah, ikan asin, ikan segar, tekstil serta batik. Untuk pembangunan di luar Pulau Jawa, dari Sunda Kelapa juga diangkut bahan bangunan seperti besi beton dan lain-lain. Pelabuhan ini juga merupakan pela-buhan tujuan pembongkaran bahan bangunan dari luar Jawa seperti kayu gergajian, rotan, kaolin, kopra, dan sebagainya. Bongkar muat barang di pekabuhan ini masih menggunakan cara tradisional. Di pelabuhan ini juga terse-dia fasilitas gudang penimbunan, baik gudang biasa mau-pun gudang api.
Dari segi sejarah, pelabuhan ini pun merupakan salah satu tujuan wisata bagi DKI. Tidak jauh dari pelabuhan ini terdapat Museum Bahari yang menampilkan dunia kemaritiman Indonesia masa silam serta peninggalan sejarah kolonial Belanda masa lalu.
Ko
ndisi pelabuhan Sunda Kelapa saat ini membutuhkan perhatian serius dari pihak yang terkait. Kondisi jalan yang rusak dan sering digenangi air merupakan pemandangan yang sering dijumpai dikawasan ini. Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan saksi bisu dan cerminan kehebatan kerajaan-kerajaan di Nusantara dalam membangun basis perekonomian dan menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain. Khususnya bangsa-bangsa yang sudah memiliki peradaban maju seperti kerajaan Belanda dan Portugis di Eropa.
(Petugas pelabuhan sedang mencatat kapal-kapal yang berlabuh)
Penulis: Thomas B. Ataladjar, Sudiyono dan Ady Thea
Potografer: Ady Thea










